long term effects of cialis for daily use is salix the same as lasix for a cat online pharmacy cialis india effects of steroids and lasix comprar levitra online entrega 24 horas online generic levitra pricing

Dia, Haruskah Berhenti Sekolah?

Screen6

SMS sore tadi sempat membuatku tertegun sejenak

Namanya singkat, Ramlang. Tidak ada embel nama lain di depan atau belakangnya. Saat ini dia duduk di kelas 3 SMP (kelas IX) di SMP 30. Saya pertama kali mengenalnya pada pertengahan tahun 2010. Saat itu saya sedang menjemput beberapa adik – adik Pasukan Bintang (PB) KPAJ untuk ke Sekolah Ahad. Ramlang menghampiriku dan bertanya, “Kak, mau kemana mereka?”. Saya pun menjelaskan apa itu Sekolah Ahad. “Gratis, kak? Kalau minta dibuatkan soal bisa? Mauka ujian masuk SMP” tanyanya lagi. Setelah pembicaraan sekitar 5 menit, dia pun tertarik ikut belajar. Dan ketika saya menawarkan untuk menjemputnya lagi karena PB yang saya bawa sudah cukup banyak, dia bilang nanti akan jalan sendiri saja ke Unhas. Sejak itulah Mallang, demikian biasa dia dipanggil, aktif mengikuti Sekolah Ahad dan kegiatan KPAJ lainnya.

Ayah Mallang sehari – hari mengemis di daerah pasar Sentral. Ibunya tidak bekerja. Dan dia punya 1 orang kakak tamatan SMP yang bekerja di salon. Meskipun ayahnya pengemis, beliau tidak mengijinkan kedua anaknya turun ke jalan, mengikuti jejaknya.  Melihat hal itu, KPAJ akhirnya memutuskan untuk memasukkan dia dalam program orang tua asuh (OTA). Dan alhamdulillah seorang teman (Mbak Dilla Handini dan suami) bersedia membiayai sekolahnya. Jadilah, dia serta seorang adik lagi menjadi PB pertama yang mendapat beasiswa dari program tersebut.

Mallang anak yang sopan, penurut dan agak pemalu. Dia tidak banyak menuntut ingin ini atau itu seperti beberapa temannya yang lain. Sikapnya yang cukup bijak, membuat teman – temannya memilih dia sebagai ketua PB. Mallang senang matematika, dan tidak menyukai pelajaran kesenian/kerajinan. Dia beberapa kali berkata tentang ketidaksukaannya terhadap pelajaran itu. Bahkan jika Sekolah Ahad bertemakan kerajinan, dia lebih sering menjadi penonton saja. Dan untuk nilai di sekolah formal, tidak pernah ada masalah berarti yang dia alami. Nilainya cukup baik. Beberapa kali sempat masuk rangking 10 besar. Dan sewaktu kami membuka kelas malam dari Senin – Jumat selama 3 bulan untuk persiapan ujian paket A beberapa adik, hampir setiap malam Mallang datang dan kadang ikut membantu mengajari teman – temannya.

Semuanya berjalan baik – baik saja, sampai di tahun lalu ketika ayah Mallang meninggal. Mereka kehilangan sosok tulang punggung keluarga. Penghasilan kakaknya tidak mencukupi untuk biaya hidup mereka. Kondisi seperti inilah membuat Mallang harus turun tangan mencari tambahan uang. Sepulang sekolah, dia pergi ke sebuah pusat perbelanjaan yang terletak di dekat rumahnya. Di sana dia menawarkan jasa mengangkut barang belanjaan, atau menyeberangkan orang. Hanya sekali dua kali kami pernah mengingatkan dan memintanya untuk tidak mengemis, dan alhamdulillah sampai sekarang hal itu tidak dilakukannya.

Beberapa bulan setelah ayahnya meninggal, dia sempat berkata, “kak, saya sampai SMP saja kayaknya. Biaya SMK terlalu banyak.” Saat itu kami mencoba meyakinkannya, bahwa insya Allah akan ada jalan asal kita tidak putus asa. Topik sekolah ini kemudian beberapa minggu yang lalu kembali saya dengar. Saat itu saya sedang duduk di sebelahnya, dan dia berkata “kak, ndak usahmi saya lanjut sekolah nah. Ndak ada uang.” Saya lantas mengajaknya menyingkir dari lingkaran teman – temannya, dan mendengar banyak hal yang dia bingungkan. Singkat cerita, dia ingin meneruskan sekolah, tapi dia tahu ada hal yang tidak bisa disepelekan, yaitu biaya sekolah. Akan seberapa besar biaya sekolah menengah kejuruan? Dia merasa tidak sanggup, dan tidak enak pada OTA-nya jika harus mengeluarkan banyak uang. Yah, kami memang belum sempat membicarakan kelanjutan sekolah Mallang dengan OTA-nya, karena mungkin ada yang akan coba diubah pada program OTA.

Ingin rasanya berkata, sudah tidak usah dipikirkan, biar itu jadi urusan kami. Tapi saya dan teman – teman tahu, kami tidak bisa melakukannya. Kami tidak bisa memberikan janji sebesar itu. Sebab bukan hanya dia saja di Pasukan Bintang yang ingin bersekolah tanpa harus kebingungan memikirkan biaya. Kami memang tidak tahu akan seberapa banyak biaya sekolah yang diperlukan nantinya, tapi sepanjang mereka bersemangat untuk sekolah, insya Allah kami masih mau terus berusaha mencari solusi. Kami percaya, setiap niat baik akan ada jalannya.

Mallang, kamu dan kakak – kakakmu di KPAJ punya harapan yang sama. Melihatmu terus sekolah. Dan jika nanti kita sama – sama tidak punya uang untuk membayar sekolahmu, bukankah kita akan mencarinya bersama?

Berjanjilah, apapun yang terjadi kelak, tolong jangan padamkan semangat dan juga kebaikan – kebaikan di hatimu. Itu saja.

Comments
  1. PingPlangPlong
  2. Ira
  3. aineblume
  4. ucha

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.