Menulislah, Maka Kau Kusayangi

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Pramoedya Ananta Toer)”

Jika ada yang bertanya siapa yang masa remajanya diisi dengan menulis buku harian, maka saya adalah salah satu yang akan mengacungkan jari. Ya, sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya lebih banyak mengungkapkan isi hati di buku harian. Begitupun saat memasuki masa seragam putih abu – abu, saya semakin sering mengisi diary. Menulis bukan hanya saat – saat tertentu, jika sedang senang atau sedih misalnya, tapi setiap hari. Setiap hari, sebelum tidur, selama 3 tahun saya menuliskan apa yang terjadi di hari itu. Tak harus dengan berpuluh apalagi beratus kata, kadang kala saya hanya menulis, “Dear diary, tadi dipukul penggaris kayu karena kedapatan bolos, padahal bolosnya di perpus.”, atau, “ Dear diary, kapan ya saya lulus? Bosan!!!” *Ya menurut ngana?* (Tulisan ini disertakan dalam lomba blog #10tahunAM)

Diary – diary tersebut saya simpan sebaik mungkin. Sayang, saya harus kehilangan 1 diari berwarna kuning, beberapa tahun lalu. Entah siapa yang mengambilnya? Hilang begitu saja di kamar kost. Anehnya, hanya buku itu saja yang hilang. Meski tulisan di dalamnya penuh kenorakan selama 3 tahun di SMU, tapi dapat membuat saya menangis saat tahu bukunya lenyap. Rasanya seperti kehilangan beberapa ingatan. Semenjak kejadian itu, saya memang membeli diary baru, hanya saja rasanya tak lagi sama. Saya kemudian lebih sering menulis dilembaran kertas biasa, seperti di halaman belakang buku catatan kuliah, atau potongan kertas hvs.

Hingga pada tahun 2005, saya berkenalan dengan sebuah tempat menulis baru yang tak perlu menggunakan tinta pena dan kertas, tapi dengan menggerakkan jemari pada sebuah aplikasi web yang bernama blog. Butuh beberapa minggu untuk membulatkan tekad membuat sebuah blog di Friendster, blog yang terserah-deh-semua-orang-bisa-baca. Tulisan pertama saya tentang kekesalan pagi itu pada 2 orang teman kost. Tulisan yang pada akhirnya membuat saya ketagihan untuk menulis blog. Tulisan yang tidak disangka akan membawa saya pada pengalaman – pengalaman yang tak terduga. Tulisan yang mengenalkan saya pada sebuah komunitas dikemudian hari.

Blog merupakan singkatan dari web log adalah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web umum. Media blog pertama kali dipopulerkan oleh Blogger.com, yang dimiliki oleh Pyra Labs sebelum akhirnya PyraLab diakusisi oleh Google.Com pada akhir tahun 2002 yang lalu. Semenjak itu, banyak terdapat aplikasi-aplikasi yang bersifat sumber terbuka yang diperuntukkan kepada perkembangan para penulis blog tersebut.
Blog mempunyai fungsi yang sangat beragam,dari sebuah catatan harian, media publikasi dalam sebuah kampanye politik, sampai dengan program-program media dan perusahaan-perusahaan. Sebagian blog dipelihara oleh seorang penulis tunggal, sementara sebagian lainnya oleh beberapa penulis. Banyak juga weblog yang memiliki fasilitas interaksi dengan para pengunjungnya, seperti menggunakan buku tamu dan kolom komentar yang dapat memperkenankan para pengunjungnya untuk meninggalkan komentar atas isi dari tulisan yang dipublikasikan, namun demikian ada juga yang yang sebaliknya atau yang bersifat non-interaktif. (Wikipedia)

postingan-pertama

Postingan pertama

Setelah bertahun meninggalkan Makassar dan kemudian kembali, membuat saya harus beradaptasi lagi dengan lingkungan baru. Saya nyaris bosan. Rumah – kantor, hanya seperti itu saja setiap hari. Sampai akhirnya seorang teman kantor mengetahui kebiasaan saya menulis blog. Daeng Ipul, yang kala itu saya panggil ‘pak’, kemudian bercerita tentang sebuah komunitas blogger bernama AngingMammiri, yang akrab disebut Paccarita, dan mengajak saya untuk ikut bergabung. Tapi, dengan tipe yang banyak pertimbangan dan pemalu membuat saya tak lantas menyambut ajakan tersebut. Hingga disebuah sore, saat mengunjungi Benteng Somba Opu yang akan dibangun waterboom, saya bertemu dengan beberapa orang yang tergabung dalam komunitas blogger AngingMammiri. Tanpa disadari rupanya itu adalah kopdar pertama saya, yang kemudian berlanjut di Puntondo, puncak acara ulang tahun AngingMammiri ke-4, mempertemukan saya pada beberapa orang, yang selama ini hanya saya kenal melalui tulisan – tulisan di blognya.

Begitulah, dari satu kopdar tanpa sengaja, berlanjut sampai kopdar kesekian. Dari satu cerita, menjadi banyak cerita. Sapaan setiap hari di milis pun ikut mewarnai hari – hari saya. Dari mereka, saya belajar banyak hal yang bukan hanya tentang menulis. Saya pun mulai memberanikan diri untuk mengikuti lomba blog, meski hingga kini masih sering tidak percaya diri, sebab merasa tulisannya masih berantakan.

jogja

Kopdar, hepi-hepi, makan-makan, foto-foto, jalan-jalan *foto by Rizved*

Komunitas ini, terkadang saya bingung menjabarkannya seperti apa. Bagi saya, ia tak lagi hanya sebagai wadah berkumpulnya sekelompok orang yang suka menulis dan mempunyai blog, tapi lebih dari itu. Tempat yang dengan semena – mena saya sebut sebagai rumah ini dengan kopdarnya yang dulu nyaris setiap hari, ditambah undangan – undangan event, seringkali mampu menghapus lelah dari penatnya kerjaan kantor.

Bertahun telah berlalu. Saya masih ingat, saat pertama kali membuat blog, saya sempat bertekad untuk membuat minimal 1 postingan dalam sebulan. Saya bisa memenuhinya sampai tahun lalu. Tapi kini, tekad itu retak. Bahkan beberapa bulan terakhir, telah berantakan menjadi serpihan yang mulai susah saya rekatkan kembali. Atas nama sibuk, yang sebenarnya tidak begitu, selalu saya jadikan alasan. Undangan event yang bertebaran di group pun acapkali saya abaikan. Entahlah. Mungkin saya sedang dilanda rasa jenuh.

Tapi apapun itu, masih menulis atau tidak, membuat saya tak henti – hentinya bersyukur telah mengenal dunia per-blog-an. Sebab dari situlah saya menemukan sebuah rumah yang hangat. Rumah yang membuat saya tak harus menjadi siapa – siapa, tidak ada topeng yang mesti dipakai. Meski baru bergabung di tengah perjalanan membuat banyak cerita yang terlewati. Ada kisah yang tidak saya mengerti. Bahkan terkadang, ada kekesalan yang belum saya pahami sepenuhnya. Tapi sungguh, saya menyukainya. Menyukai kesederhanaan dan tawa dari penghuni rumah ini. Menyukai beberapa idealisme yang berusaha dipertahankan. Menyukai lintasan pertemanan yang tercipta. Menyukai setiap perjalanan kemanapun. Dan seperti layaknya sebuah keluarga yang sering berinteraksi, tentu tidak luput dari perselisihan, pertengkaran. Ah, drama! Drama yang kerap berujung tawa.

AM

*foto by Dg Ipul*

Dear Paccarita, tetaplah menjadi rumah yang hangat, yang menyenangkan bagi siapa saja. Menjadi tempat pulang tanpa ragu.

Dan, ajakan ini pun tak berubah, …..

Mari kita menua bersama hingga senja memudar.

Leave a Reply