Pagi, Pak Tua, dan Balon Kokek-kokek

“Berapa harga satu balonta’, pak?”

Jalan Rappocini menjadi rute akrab sehari – hari semenjak saya dipindahkan ke kantor yang satunya awal Agustus kemarin. Perjalanan pagi pun berlangsung seperti biasa, kadang menemui sedikit kepadatan kendaraan, kadang pula tanpa hambatan. Hingga pagi itu, saat melintasi jalan Rappocini, di sisi seberang jalan nampak seorang bapak tua sedang berjalan tertatih sambil memegang beberapa balon, yang jika balon kecilnya dipencet 2 kali akan mengeluarkan bunyi “kokek – kokek”. Untuk itulah orang di Makassar menamakannya balon kokek – kokek.

Seketika saya teringat tulisan kak Mugniar. Sepertinya yang ditulis kak Mugniar adalah orang yang sama, meski bapak itu tidak ditemani seorang anak laki – laki. Saya berusaha mengingat – ingat sembari terus melajukan kendaraan. Sempat terbersit ingin berhenti, kemudian memutar arah dan membeli jualan pak tua, tapi pikiran akan terlambat sebab waktu sudah menunjukkan pukul 8 lebih, membuat saya mengurungkan niat. Hal yang pada akhirnya saya sesali hingga berminggu – minggu kemudian.

2014-06-02 08.55.34

*foto diambil dari blog kak Mugniar

Semenjak pagi itu, setiap kali melintasi jalan Rappocini saya berharap bertemu pak tua dan jualannya. Sayang, pak tua dan saya tidak pernah berpapasan lagi. Beliau tidak berjualan, atau memang waktu kami yang tak lagi sama? Ntahlah. Hingga beberapa minggu kemudian, saya akhirnya melihat beliau. Saya pun lantas memutar arah dan berhenti di dekatnya.

“Berapa harga satu balonta’, pak?” “Terserah mi, nak, mau beli dengan harga berapa” Saya terdiam sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli semua balon yang dimiliki pak tua, meski saya juga tidak tau akan diapakan 5 balon tersebut.

Ada sebuah rasa hangat mengalir di dada saat beliau mengucapkan terima kasih, dan melihat kedua tangannya menengadah ke atas, menggumamkan sesuatu, mungkin rasa syukur jualannya telah laku.

IMG_20140911_103212

Balon Kokek – kokek

Satu hal yang bisa saya petik dari kejadian ini, kalau mau melakukan sesuatu (kebaikan), lakukanlah. Jangan menundanya untuk hal – hal yang sebenarnya bisa diatasi.

Dan hingga saat saya menulis ini, pagi hari ketika menuju ke tempat kerja, saya masih beberapa kali melihat beliau di daerah Rappocini, berjalan sendiri sambil memegang erat jualannya. Saya memang tidak setiap saat membeli balon kokek – kokek jualan beliau, hanya sesekali. Terakhir saya mampir untuk membeli 1 balon.

Saya berharap, semoga Allah selalu menjaga beliau. Tetap sehat ya, pak!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.